Di dunia digital yang semakin terhubung, ada sisi gelap yang kerap dimanfaatkan sebagian orang: kemampuan untuk membanjiri nomor telepon atau email seseorang dengan pesan dan panggilan massal tanpa henti. Inilah ceruk yang diisi oleh iBoomber, sebuah kanal Telegram berbahasa Persia yang berpusat di sekitar bot Telegram bernama @iBoomber2Bot.
Kanal ini pada dasarnya berfungsi sebagai papan pengumuman resmi untuk layanan bot tersebut. Kontennya sangat terfokus: pengumuman pembaruan bot, penambahan fitur baru, pemberitahuan gangguan server, dan klarifikasi soal akun resmi. Tidak ada diskusi panjang, tidak ada tutorial mendalam — hanya notifikasi singkat yang langsung ke inti persoalan. Frekuensi postingnya pun tidak konsisten; ada periode aktif dengan beberapa postingan sekaligus, lalu sepi berbulan-bulan.
Dari sisi fitur, bot ini menawarkan berbagai layanan yang secara teknis disebut "bomber" — SMS bomber, call bomber, email bomber, hingga fitur kecerdasan buatan dan downloader multimedia. Pembaruan terbaru mengklaim penambahan lebih dari 55 layanan baru sekaligus. Ada pula sistem keanggotaan "akun khusus" yang memberikan akses tak terbatas secara permanen, serta program referral di mana pengguna paling aktif mendapatkan akun premium gratis setiap bulannya.
Dengan lebih dari 555.000 subscriber, angka ini mencerminkan betapa besarnya minat terhadap layanan semacam ini. Namun perlu dicatat dengan tegas: layanan "bomber" seperti ini — yang digunakan untuk membanjiri nomor telepon atau email orang lain secara massal tanpa izin — berada di wilayah abu-abu hukum di banyak negara, bahkan secara eksplisit ilegal di sebagian yurisdiksi. Penggunaannya untuk melecehkan, mengintimidasi, atau mengganggu orang lain jelas merupakan pelanggaran etika digital yang serius.
Dari sudut pandang jurnalistik, kanal ini menarik sebagai fenomena sosial: ia menunjukkan bagaimana ekosistem bot Telegram bisa tumbuh menjadi layanan terorganisir dengan basis pengguna masif, sistem membership berjenjang, dan infrastruktur server yang dikelola secara aktif. Tim di baliknya tampak responsif terhadap gangguan teknis dan rutin merilis pembaruan.
Namun, sebagai rekomendasi, kanal ini tidak layak diikuti oleh pengguna biasa yang mencari konten edukatif atau hiburan. Kontennya sempit, hampir seluruhnya berbahasa Persia, dan tujuan utama layanan yang dipromosikan sangat rentan disalahgunakan. Bagi peneliti keamanan siber atau mereka yang ingin memahami lanskap ancaman digital berbasis Telegram, kanal ini bisa menjadi bahan studi kasus — bukan sebagai panduan untuk diikuti, melainkan sebagai contoh nyata bagaimana platform pesan instan bisa dimanfaatkan untuk tujuan yang meragukan.